Minggu, 09 Oktober 2016

SEJARAH PERJUANGAN TIMOR LESTE DAN SEJARAH POLITIK TIMOR LESTE



Elite FRETILIN 1970-an: Antara Pendidikan Jesuit, Turunan Deportados, African Connection, dan Semangat ‘the Sixties’

fre3
Upacara proklamasi unilateral kemerdekaan Republik Demokratik Timor-Leste di depan Palacio do Governador di Dili pada 28 November 1975. Nampak Nicolau Lobato, Francisco Xavier do Amaral, dan Rogerio Lobato di baris depan.[Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Oleh Matheos Viktor Messakh
Jika Fretilin (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente atau the Front Revolusioner untuk Kemerdekaan Timor Timur)  tak pernah didirikan dan para pendirinya yang relative sangat muda tidak pernah mendeklarasikan kemerdekaan Timor-Leste sebagai sebuah negara baru pada 28 November 1975, sejarah Timor-Leste mungkin akan sangat berbeda.
Ketetapan hati para pemimpin partai untuk memilih opsi kemerdekaan dari tiga opsi yang disodorkan oleh pemerintah kolonial Portugis[1] telah membuat sekutu Amerika Serikat di Asia Tenggara, Indonesia, untuk menginvasi bagian timur Pulau Timor itu dibawah pretext ancaman komunis di Asia. Timor sebagai sebuah negara merdeka dikawatirkan akan menjadi “Kuba di Asia tenggara”. Amerika dan sekutu Perang Dinginnya menjadi pendukung utama invasi Indonesia ke Timor-Leste, termasuk Australia yang mengkhianti orang Timor yang berjuang bersama mereka selama pendudukan Jepang di awal tahun 1940s.[2]
Apa sebenarnya pengaruh ideologis dan kecendrungan di antara para pemimpin Fretilin, yang walaupun relatif sangat muda telah melampaui keterbatasan-keterbatasan mereka dan berdiri teguh dengan keberanian yang sulit dipercaya untuk memprolamasikan kemerdekaan Timor-Leste?
Fre6
Milisi bersenjata Mausers dan FBP yang dibentuk oleh Fretilin selama counter-coup bulan Agustus 1975. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Jika kita melihat foto-foto para prajurit dan pemimpin Fretilin di tahun 1975 maka yang kita lihat adalah “muda, gondrong, kiri”. Namun jika dilihat lebih mendalam dalam dokumen-dokumen sejarah Timor maka yang bisa kita lihat lebih dari sekedar, “muda, gondrong dan kiri.” Pengaruh gereja terutama pendidikan Jesuit, jurnalisme cetak, hubungan antara periferi kolonial,  saling keterhubungan antara metropole dan periphery, dan semangat anti-kolonial the Sixties telah memainkan peran yang penting dalam pembentukan ideology para orang muda radikal Timor-Leste.
Timor-Leste adalah koloni Portugis yang terkahir meraih kemerdekaannya di abad 20, namun hanya dalam hitungan hari setelahnya kemerdekaan yang dideklarasikan oleh Fretilin pada 28 November 1975 itu dirampas oleh sebuah invasi dari militer Indonesia. Pemerintahan militeristik Indonesia, yang telah mematai-matai dengan seksama proses politik di Timor-Leste sejak sebelum proses dekoloniasi di tahun 1975, khawatir akan ancaman komunis di wilayah ini, dan segera menanggapi proklamasi itu dengan invasi besar-besar yang menewaskan sekurang-kurangnya102,800[3] orang selama 25 tahun pendudukan.
fre4
Nicolau Lobato saat Proklamasi Kemerdekaan Republim Demokratik Timor-Leste pada 28 November 1975. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Bahan bakar paling pertama untuk penyadaran nasionalisme Timor modern mengalir dari kegiatan-kegiatan yang diprakarsai gereja Katholik. Sebagai sebuah koloni Portugis, Timor tidak lepas dari control dan sensor polisi rahasia PIDE (Polícia Internacional e de Defesa do Estado) yang terkenal kejam. Namun karena penerbitan gereja berdiri di luar hukum sensorship yang biasa, maka tak heran terbitan gereja menjadi alat bagi mereka yang anti-penjajahan. Sebuah terbitan gereja, Seara, menjadi media yang leluasa memberitakan ketidakpuasan yang mulai berkembang di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Kolom-kolom Seara penuh dengan polemik tentang nasionalisme. Polemik pertama tentang nasionalisme muncul antara bulan desember 1972 dan Januari 1973 antara Ramos Horta dan Mari Alkatiri. Karena kecendrungan pemberitaan dan opini-opini yang semakin politis, PIDE campur tangan dan koran itu ditutup pada 24 Maret 1973.
Namun nucleus dari perlawanan aktif telah terlanjur terbentuk dimana sejumlah kontributor Seara telah secara rutin mengadakan pertemuan rahasia di Dili. Banyak dari antara contributor ini kemudian muncul sebagai pemimpin setelah tahun 1974 antara lain: Nicolau Lobato, Jose Ramos Horta, Xavier do Amaral (menulis dengan pseudo name ‘Ramos Paz’), Domingos de Oliveira, Manuel Carrascalao, Fransisco Borja Costa, Inacio de Moura, dan bahan penganut muslim Mari Alkatiri.[4] Hampir semua contributor inilah yang kemudian membentuk beberapa partai politik selama proses dekolonisasi yang diadakan oleh pemerintah colonial di tahun 1975 termasuk Fretilin,UDT (União Democrática Timorense) dan Apodeti (Associação Popular Democrática de Timor).[5]
Para pemimpin partai-partai yang muncul di Timor-Leste selama proses dekolonisasi hampir semuanya Katholik, namun katholisisme pemimpin Fretilin secara kualitas memang berbeda.[6] Presiden Fretilin yang pertamaFrancisco Xavier do Amaral yang kemudian menjadi presiden pertama Timor-Leste, menamatkan pendidikan di seminari Jesuit di Dare, beberapa kilometer di luar Dili dan melanjutkan pendidikan untuk menjadi pastor di Makau. Namun ia meninggalkan gereja karena secara legal dan politis, gereja dianggap sebagai sebuah tangan dari Negara Portugis di koloni ini.[7] Walaupun demikian ia tetap menjadi pemeluk katholik.
Nicolau Lobato, wakil presiden Fretilin yang kemudian menjadi perdana mentri pertama juga tetap menjadi pemeluk katholik namun selalu berbeda pendapat dengan gereja resmi. Saat Fretilin mulai berkembang orang-orang ini semakin marah kepada tuduhan gereja gereja lokal bahwa mereka adalah komunis.
Para pemimpin Fretilin, yang hampir semuanya berusia 20-an, memang sangat dipengaruhi oleh iklim intelektual, budaya dan politik tahun 1960-an. Guru-guru mereka di Seminari Jesuit di Dare juga dipengaruhi oleh atmosfir yang sama, dan tentu saja oleh reformasi Gereja Katholik in Konsili Vatikan II (1962-1965). Selama lebih dari dua dekade sebelum Konsili, pemimpin Gereja Katholik adalah Paus Pius XII (1939-1958) yang ‘sangat otoriter dan antidemokratik’. Ia membisu terhadap genocida dalam Perang Dunia II, ia telah meng-ekskomunikasi semua anggota partai komunis di seluruh dunia namun ‘tidak sedikitpun berpikir untuk meng-ekskomunikasi pemeluk katholik seperti Hitler, Himmler, Goebbels dan Bormann.’ Penggantinya Paus Johanes XXIII, Konsili mengoreksi hampir semua kebijakannya yang menentukan. Paus Johanes XXIII sangat membela keadilan sosial internasional dalam edarannya di tahun 1961, Mater et Magistra. Ia memanggil Gereja untuk terbuka kepada dunia modern dan Ia juga menegaskan hak asasi manusia dalam edarannya di tahun 1963, Pacem in Terris.
[Sumber: Timor Archives]
[Sumber: Timor Archives]
Konsili Vatikan II memerintahkan agar gereja melayani kebenaran, perdamaian dan keadilan, dengan perhatian khusus kepada orang miskin dan tertindas. Banyak pemimpin masa depan Timor-Leste berhadapan dengan atmosfir intelektual yang menarik dari Konsili Vatikan II ini selama masa study mereka di seminari Jesuit di Dare, dimana guru-guru mereka kolonialisme dan memperkenalkan ide-ide baru kepada mereka.
Para pemimpin muda Fretilin menyerap semua pelajaran ini, yang pada gilirannya membuat jengkel pra imam yang telah menghabiskan bagian terbaik dari karir mereka di masa Pius XII. Kepala gereja di Timor-Leste adalah Uskup Dom Jose Joaquim Ribeiro, seorang tokoh konservatif yang lebih suka melindungi status istimewa gereja. Gereja di Timor menikmati subsidi Negara, pengecualian pajak, posisi istimewa dalam pendidikan dan hibah tanah yang luas. Para pemimpin Fretilin, banyak yang jebolan baru seminari dan digojlok selama tahun 1960-an, mengkritik keterlibatan gereja dalam kolonialisme Portugis ini, mengeritik kekayaan gereja dan pengusaan lahannya yang luas. Uskup Ribeiro marah dan menggambarkan Fretilin sebagai komunis dan melarang orang katholik untuk memilih mereka. Rekan selevelnya di perbatasan dengan Indonesia, Uskup Theodore van den Tillart di Atambua, juga menggambarkan Fretilin sebagai komunis. Ia menginformasikan Kardinal Australia Cardinal Knox bahwa Fretilin menerima bantuan dari komunisme internasional dan telah melakukan pelanggaran HAM besar. Kardinal Knox kemudian bekerja di Vatikan. Apostolic Pro-Nuncio di Jakarta, Vincenzo Farano, adalah figure gereja lain yang ikut menggambarkan Fretilin sebagai komunis.

D. Goulart Jaime Garcia, Uskup Dili, bersama orang Timor dan para imam sekitar tahun 1970. Nampak di sebelah kanan Dom Martinho da Costa Lopes yang kemudian menjadi uskup. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
D. Goulart Jaime Garcia, Uskup Dili, bersama orang Timor dan para imam sekitar tahun 1970. Nampak di sebelah kanan Dom Martinho da Costa Lopes yang kemudian menjadi uskup. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Sentimen anti-komunis memang menjadi senjata ampuh untuk digunakan pada era Perang Dingin sebagaimana yang terjadi di Timor-Leste. Invasi yang dilakukan Indonesia dilakukan dengan pretext anti-komunis, menuduh Fretilin sebagai partai komunis dan dan bahwa Timor-Leste yang merdeka akan menjadi “Kuba yang lain” di Asia tenggara. Musuh Fretilin, UDT, menggunakan sentimen yang sama dalam kampanye mereka melawan Fretilin.[8] Bahkan gereja katholik, yang dikemudian hari secara luas diakui sebagai pendukung gerakan kemerdekaan, awalnya memainkan peran penting dalam inkursi anti-komunis melawan Fretilin sebelum mereka berbalik arah mendukung tujuan Fretilin untuk kemerdekaan dan membela orang timor dari penderitaan akibat regim pendudukan Indonesia yang brutal.[9]
Hubungan Timor dengan koloni-koloni Portugis yang lain juga menjadi faktor dalam pembentukan ideologi para pemimpin Fretilin. Meskipun salah satu ciri menonjol dari kolonialisme Portugis adalah membuat Timor terisolasi dari Lisbon dan periferi kolonial yang lain seperti Macau, Mozambique, Angola dan Goa, saling keterhubungan antara sesama periferi kolonial yang mempunyai persamaan nasib penderitaan kolonial sulit dibendung.
418905_277380092363269_327349132_nAfrican connection terutama hubungan dengan Angola dan Mozambique memainkan pengaruh kuat bagi para pemimpin perlawanan Timor karena banyak dari mereka telah dididik, masuk wajib militer atau dibuang ke Afrika dan kemudian kembali ke Timor dengan pembentukan kesadaran nasional dalam pikiran mereka. Jose Ramos-Horta, pemenang Hadiah Nobel, perdana mentri serta presiden di kemudian hari, dikirim ke pembuangan di Mozambique ketika ia baru berusia 18 tahun. Di sana ia bekerja sebagai seorang wartawan hampir saja mendapat masalah lagi dengan pemerintah kolonial.[10] Ia dipanggil polisi untuk mempertanggungjawabkan sebuah review yang ia tulis tentang sebuah film Australia ‘Ned Kelly’ yang diperankan Mick Jagger, dimana ia menggambarkan Kelly sebagai seorang demokrat yang melawan penindasan kolonial. Aktifis Timor lainnya yang kemudian menjadi perdana mentri Mari Alkatiri juga menjalani pendidikannya di Angola, dimana ia secara rasia bertemu dengan seorang perwakilan MPLA.[11]
Arah politik dari gerakan orang Timor sebelum proses dekolonisasi condong ke ide-ide para nasionalis Afrika dari koloni-koloni Portugis seperti Agustinho NetoAmilcar CabralSamora MachelEduardo Mondlane. Perubahan nama partai dari ASDT (Associacao Democratica Inregracao Timor Leste) ke Fretilin di bulan September 1975 jelas menunjukkan bahwa para pemimpin partai terkesan dan dipengaruhi oleh gerakan nasionalis Afrika, dimana nama baru ini mirip dengan FRELIMO.
Fre7
Para pemimpin Fretilin saat meninggalkan Palacio do Governador di Dili setelah upacara proklamasi kemerdekaan Republik Demokratik Timor-Leste pada 28 November 1975. Nampak Nicolau Lobato, Francisco Xavier do Amaral, dan Rogério Lobato. [sumber: Preto e Branco/Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Di pertengahan tahun 1975 ketika ketegangan politik meningkat di Timor-Leste, para elit Fretilin meningkatkan kunjungan mereka ke Afrika untuk bertemu dengan para pemimpin politik di koloni portugis atau bekas koloni Portugis di sana. Nicolau Lobato melakukan sebuah tur diplomatik ke Afrika kemudian ke Lisbon di bulan April 1975, sementara Xavier do Amaral dan Mari Alkatiri juga menghadiri perayaan kemerdekaan Mozambique atas undangan Presiden Samora Machel.[12]
Para pemimpin baru ini lebih sungguh mengekspresikan inti dari nasionalisme Timor dalam campuran ide-ide revolusioner nasionalisme Afrika, pragmatisme dan keswadayaan konservatif.[13] Sesaat sebelum invasi besar-besaran Indonesian pada 7 Desember 1975,  José Ramos-Horta, Mari Alkatiri dan Rogério Lobato dikirim ke luar negeri untuk melakukan lobby internasional, menandai dimulainya perjuangan panjang militer dan diplomatik orang Timor. Alkatiri mendirikan markas Delegasi External Fretilin di Maputo, Mozambique dan bekerja di sana sebagai pengacara. Ramos Horta kemudian selama bertahun-tahun menjadi ‘diplomat tak resmi’ di PBB melakukan lobby-lobby tanpa lelah untuk kemerdekaan Timor-Leste.
Fre1
José Ramos-Horta dengan adik laki-lakinya di Bandara Dili menjelang keberangkatannya ke luar negeri dimana ia tidak bisa kembali selama 25 tahun.[Sumber: Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Keterhubungan antara periferi kolonial bukanlah satu-satunya sumber bagi gerakan kemerdekaan. Hubungan dengan metropole juga mempunyai efek personal yang dalam pada 39 pelajar dan mahasiswa Timor yang menempuh pendidikan di Portugal pada saat itu. Dari tiga partai utama yang dibentuk di bulan Mei 1975, ASDT-lah yang mendapat dukungan cukup besar dari sebagian besar pelajar ini. Para pelajar ini berada di Portugal saat ‘Revolusi Bunga’[14] terjadi dan tidak diragukan mereka mempunyai sejumlah ingatan tentang gerakan perwira yang bertujuan utama membebaskan metropol Portugal dari koloni-koloninya.[15]
Adalah para pemuda-pemudi Timor radikal yang teralienasi dari kebudayaan mereka sendiri ini yang sangat ingin mencari tahu asal-usul budaya mereka. Mereka membentuk kelompok pendukung di seberang lautan yang sangat bernilai bagi Fretilin. Tujuh orang pelajar kembali dari Portugal pada bulan September 1974 yaitu Abilio Araujo, Guilhermina Araujo, Antonio Carvarino, Vicente Manuel Reis, Roque Rodrigues, Rosa Muki Bonaparte dan Venancio Gomes da Silva adalah anggota dari kelompok-kelompok mahasiswa pro-Fretilin yang terbentuk di Portugal antara lain MLTD (Movimento Libertacao Timor Dili) dan FULINTID (Frente Unica de Libertacao de Timor Dili). Beberapa di antaranya seperti Roque Rodrigues, Estanislau da Silva, António Carvarino, Vicente dos Reis, Abílio de Araújo and Rosa ‘Muki’ Bonaparte kemudian menjadi figur yang menonjol dalam gerakan kemerdekaan.[16] Beberapa di antaranya bahkan mati memperjuangkan kemerdekaan.
Elemen sipil dan bersenjata selama kudeta UDT di bulan Agustus 1975, nampak seorang perempuan dengan tulisan di dada berbunyi: ""Women are on the move.'[Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Elemen sipil dan bersenjata selama kudeta UDT di bulan Agustus 1975, nampak seorang perempuan dengan tulisan di dada berbunyi: “”Women are on the move.'[Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Setelah mereka tiba di Timor Leste mereka memimpin kampanye-kampanye koperasi pertanian dan gerakan pemberantasan buta huruf di pedalaman Timor yang dijalankan dalam Bahasa Tetum dengan mempergunakan metode-metode yang digunakan oleh Paulo Freire di Brazil. Abilio de Araújo bersama para pemimpin ASDT merancang design dari kampanye anti buta huruf ini dan mempersiapkan bahan-bahan cetakan untuk kampanye ini. De Araujo dan seorang mantan pelajar yang lain Francisco Borja da Costa menciptakan ‘Foho Ramelau’ (Gunung Ramelau), sebuah lagu baru dalam Bahasa Tetum yang didasarkan pada sebuah lagu tradisional. Lagu ini menjadi bagian dari kampanye anti buta huruf dan secara cepat dikenal dan dinyanyikan di seluruh pelosok Timor Leste. Sebuah tulisan Araujo, Timorese Elites,[17] dipandang sebagai usaha pertama orang Timor berhadapan dengan kolonialisme Portugis. Tulisan ini  memaparkan kemajuan kesadaran orang Timor tentang posisi politik mereka yang tumbuh dari elite perkotaan.
Delegasi Fretilin di luar negeri dalam sebuah pertemuan dengan Jaoquim Chissano, Presiden Republik Mozambique. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Delegasi Fretilin di luar negeri dipimpin oleh Mari Alkatiri dalam sebuah pertemuan dengan Jaoquim Chissano, Presiden Republik Mozambique. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Di samping elit terdidik, baik itu pelajar disebrang lautan atau mereka yang terdidik di seminari Jesuit di Dare, anak-anak para deportados Portugis juga merupakan sumber kepemimpinan gerakan perlawanan. Kakak beradik dari keluarga Horta dan Carrascalao adalah contoh yang paling terkenal. Horta adalah anak seorang perempuan Timor dan seorang anggota angkatan laut Portugis yang dibuang ke di Timor karena bertempur dari pihak Republikan selama Perang Saudara di Spanyol ahun 1936.[18] Kakek dari Ramos Horta, Arsenio Jose Filipe adalah seoranganarcho-sindicalista yang terkenal jahat di Lisbon yang bertanggungjawab atas ledakan-ledakan bom yang tak terhingga di tahun 1920-an. Ia juga pernah dikirim ke Timor di tahun 1927.[19] Pada usia 18 tahun Horta sudah dikirim ke pembuangan di Mozambique karena mengolok-olok “misi peradaban” Portugis saat sedang mabuk alkohol.  Pada saat proklamasi kemerdekaan Timor-Leste pada 28 November 1975, Horta ditunjuk sebagai Mentri urusan Luar Negeri dan Informasi. Ia baru berusia 25 tahun saat itu dan setersunya sepanjang sejarah Timor ia memegang tugas penting dalam sayap diplomatik di pengasingan selama pendudukan Indonesia.[20]
fre12
Press Confrence Delegasi External Fretilin sekitar tahun 1980. Nampak Roque Rodrigues, Mari Alkatiri, Abilio Araújo, José Luís Guterres and Jose Ramos-Horta.[Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Saudara ipar Horta, Mario Carrascalao dan Joao Carrascalao juga adalah anak-anak dari seorang pemimpin pemuda Komunis Portugis yang dideportasi ke Timor di tahun 1930-an.[21] Mereka kemudian menjadi pendiri dan pemimpin partai UDT, yang umumnya dipimpin oleh warga Katholik yang adalah smallholders atau pegawai pemerintah.  Mari Alkatiri,pemimpin dan jurubicara Fretilin adalah keturunan pedagang Hadhrami dari Yaman, dan Hamis Bassarewan, seorang keturunan Arab. Para pemimpin keturunan timur tengah ini membuktikan bahwa globalisasi telah terjadi bahkan jauh sebelum expansi orang Eropa.
José Ramos-Horta sedang menunjukkan bukti-bukti pembantaian yang terjadi di Timor-Leste di PBB. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
José Ramos-Horta sedang menunjukkan bukti-bukti pembantaian yang terjadi di Timor-Leste di PBB. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Munculnya gerakan pemuda di Timor di awal tahun 1970-an, walaupun bisa diperdebatkan, adalah bagian dari revolusi the Sixties. Gerakan-gerakan ini muncul hanya satu dekade atau bahkan kurang dari satu dekade setelah era 1960-an yang dikenal dengan era perubahan global, yang menghasilkan sebuah caesura historis secara kultural maupun politis.  Muncul dalam kurang dari lima tahun setelah era the Sixties, para elites dari Negara baru ini tentu saja sangat familiar dengan the Sixties yang sangat terkenal dengan ide-ide mereka tentang pemberontakan terhadap nilai dan kesepakatan tradisional, ketidakpuasan terhadap  geopolitis yang tak menentu dari Perang Dingin, keinginan untuk keluar dari Marxisme orthodox dan perang aktif intelektual dan generasi muda dalam memprakarsai perubahan social.[22] Semangat the Sixties yang mempengaruhi dan membentuk banyak gerakan protes di seluruh dunia, sejak awalnya memang bersifat transnasional, mempersatukan aktifis dari berbagi belahan dunia.
Rogério Lobato dengan seorang jendral Kuba di Havana pada bulan April 1976. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Rogério Lobato dengan seorang jendral Kuba di Havana pada bulan April 1976. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Para wartawan yang tiba di Dili beberapa minggu setelah kudeta UDT yang kemudian dipatahkan oleh Fretilin melihat pemerintahan de facto Fretilin dengan kesan campur aduk antara terhibur, terkagum-kagum, siniskal dan humor.[23]Michael Richardson menulis: ‘The soldiers…[look] like a “Dad’s army” of Timorese hippies,’ wrote Michael Richardson on The Age on 9 December 1975[24]. ‘In the shade of silver-trunked gum trees this incredible collection of long-haired slovenly soldier [from] into ranks of parade. Never seen an army like this one, not in Vietnam, nor Cambodia, nor Laos nor anywhere else in South-East Asia.’ John  Edwards dari the National Timesjuga melihat “unreal casualness” dari para tentara Fretilin:
Rogerio Lobato dan Istrinya. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Rogerio Lobato dan Istrinya. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
‘Even in the midst of war and revolution, it is impossible to resist the indolent charm of Timor…Dili is such a pleasant place that it is difficult to regard the Timorese revolution with proper gravity. … the army is the least Prussian of military forces and its troops the most amiable; and the central committee of FRETILIN is in age and style not very different from the students’ representative council of a major university.’[25]
Usia dan gaya pakaian adalah bukti yang paling menusuk dari semangat the Sixties di antara para revolusioner Timor, sebagaimana terlihat dalam foto-foto dari tahun-tahun sekitar munculnya gerakan ini. Usia rata-rata para mentri dalam kabinet Republik Demokratik Timor-Leste[26] kurang dari 30, kebanyakan antara 26 dan 30. Hanya perdana mentri Nicolau Lobato yang berusia 29, sementara Presiden Xavier do Amaral dan wakil mentri urusan Administrasi Dalam Negeri dan Keamanan Fernando Carmo adalah dua yang tertua dengan usia 37.[27] Dalam sebuah kesaksian Ramos Horta ia menyebutkan bahwa alasan mereka memilih Xavier do Amaral sebagai ketua partai adalah agar mereka tidak dianggap enteng karena hampir semua pengurus parati adalah orang muda. Ramos dan Alkariti saat bersepeda ke rumah do Amaral untuk memintanya menjadi ketua partai saling melempar tanggungjawab siapa yang akan menyampaikan ide itu kepada Amaral.
***
Wartawan Australia Jill Jolliffe, yang berada di Timor-Leste dari 11 September sampai 2 Desember 1975 secara sempurna menjelaskan bahwa curriculum vitae dari banyak pemimpin kemerdekaan Timor luar biasa mirip: berasal dari keluarga liurai (pemimpin tradisional), pendidikan dasar di sekolah Jesuit di Soibada, pendidikan menengah di seminari di Dare, pegawai negeri dalam pemerintahan colonial atau anak-anak dari deportados Portugis.[28]
Abilio Araujo, pemimpin Delegasi External Fretilin dalam sebuah pertemuan dengan José Eduardo dos Santos, Presiden Angola sekitar tahun 1980. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Abilio Araujo, pemimpin Delegasi External Fretilin dalam sebuah pertemuan dengan José Eduardo dos Santos, Presiden Angola sekitar tahun 1980. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
T.N. Harper mengatakan bahwa walaupun expansi Eropa menciptakan sebuah layer baru globalisasi, penaklukan kolonial juga merobek tatanan yang lama.[29]Banyak komunitas, menurutnya, ketika berhadapan dengan imperative pengaketegorian dari pemerintahan kolonial, mulai memposisikan kembali identitas mereka dalam mana melawan asal-usul dari afiliasi universal mereka di masa lalu.Para pemimpin Fretilin melakukan aktifitas mereka termasuk memprakarsai koperasi pertanian dan kampanye anti buta huruf untuk mengakhiri dominasi para liurai. Manifesto Fretilin penuh dengan ajakan-ajakan untuk ‘penghapusan total kolonialisme’ melalui program trasisi pembangunan social. Panggilan untuk penghapusan kolonialisme disertai dengan ajakan untuk menolak ‘neo-kolonalisme.’[30]Argumen de Araujo dalam Timorese Elitesmengatakan bahwa dengan memahami sejarah kolonial Timor, tugas orang Timor dalam proses dekolonisasi adalah untuk mengakhiri sistem devisive dari para elite, dengan demikian akan menciptakan sebuah kesadaran nasional orang Timor.
Mari Alkatiri, kepala Delegasi External Fretilin di Maputo sekitar tahun 1980. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Mari Alkatiri, kepala Delegasi External Fretilin di Maputo sekitar tahun 1980. [Archives & Museum of East Timorese Resistance]
Migrasi manusia dan ide-ide telah menandai asal-usul transnasional dari sejarah Timor. Agen-agen global ini adalah kelompok migran sepertimestisos, para buangan, keturunan Arab, pelajar luar negeri, dan akademisi. Sebagaimana dikatakan oleh Harper bahwa study tentang para sojourners ini bisa menjadi kunci untuk menulis sebuah sejarah yang benar-benar global, sebagai lawan dari sejarah “internasional” atau “sejarah dunia”.[31]{S}

[1]Jill Jolliffe, East Timor: Nationalism & Colonialism, Queensland: University of Queensland Press, 1978; untuk laporan lengkap tentang proses dekolonisasi Portugis terhadap Timor Leste di tahun lihat Chega!, terutama Part 3: History of the Conflict, p. 11-15, 23-32, tersedia pada: http://www.cavr-timorleste.org/chegaFiles/finalReportEng/03-History-of-the-Conflict.pdf [accessed on Feb. 24, 2013.]
[2]Untuk informasi  lebih lengkap mengenai pengkhianatan pihak-pihak internasional terhadap Timor-Leste lihat James Dunn, Timor: A People Betrayed, Jacaranda Press, 1983.
[3]Chega! The Report of the Comissao de Acolhimento, Verdade e Reconciliacao de Timor Leste (CAVR), Part 6: The Profile of Human Rights Violations in Timor-Leste, 1974 to 1999, p. 3-4. Tersedia pada http://www.cavr-timorleste.org/chegaFiles/finalReportEng/06-Profile-of-Violations.pdf [access pada 24 Februari 2013].
[4]Jolliffe, East Timor: 56.
[5]Untuk informasi tentang semua parati politik yang muncul sebelum dan setelah pembicaraan pertama untuk melaksanakan proses dekolonisasi yang diadakan oleh pemerintah colonial Portugis di bulan Mei 1975, lihat James S. Olson (ed), Historical Dictionary of European Imperialism, New York: Greenwood Press, 1991; Jolliffe, East Timor: 61-91.
[6]Jolliffe, East Timor: 70.
[7]Jolliffe, East Timor: 70.
[8]Jollifee, East Timor: 115.
[9]Untuk peran gereja Katholik dalam konflik di Timor-Leste dari tahun 1975 sampai 1998 lihat Chega!, Chapter 7.1: Self Determination p. 67-76, available on http://www.cavr-timorleste.org/chegaFiles/finalReportEng/07.1-Self-Determination.pdf [access pada February 24, 2013]; lihat juga Peter Carey, “The Catholic Church, Religious Revival and the Nationalist Movement in East Timor 1975-1998” dalam Indonesia and the Malay World, 27/78, 1999.
[10]Jolliffe: 56; Jose Ramos Horta, Funu, The Unfinished Saga of East Timor, The Red Sea Press. Inc: New Jersey, 1987, 14.
[11]Jolliffe, East Timor: 57.
[12]Jolliffe, East Timor: 111.
[13]Jolliffe, East Timor: 153.
[14]Untuk Revolusi Bunga di Portugal lihat Horta, Funu: 25-28;
[15]Jolliffe, East Timor: 72-3.
[16] Yang masih hidup sampai sekarang adalah Roque Rodrigues yang kemudian menjadi Mentri Pertahanan dan Keamanan dalam kabinet Alkatiri setelah Timor-Leste meraih kembali kemerdekaannya di tahun 2002; di tahun yang sama Estanislau da Silva ditunjuk sebagai Mentri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. Dia menjadi pejabat Perdana Mentri dari Mei-Agustus 2007 menggantikan Ramos Horta yang terpilih menjadi Presiden. António Carvarino (Mau Lear) diangkat menjadi mentri Pengadilan Sosial dalam Kabinet pertama di tahun 1975, Vicente dos Reis (Sahe) diangkat menjadi Tenaga Kerja, Abílio de Araújo diangkat menjadi Mentri Perekoniman dan Sosial dan Rosa ‘Muki’ Bonaparte
[17]Abilio de Araujo, Timorese Elites, Canberra: Canberra Techincal College, 1975. Diterjemahkan dari judul asli As elites em Timor by J.M. Alebrto.
[18]Horta, Funu: 7.
[19]Ibid: 8.
[20]Ibid: 98.
[21]Jolliffe, East Timor: 62.
[22]Martin, Kimkle, “Entry: 1960” dalam The Plagrave Dictionary of Transnational History, Akira Iriye and Pierre-Yves Saunier (eds), (London: Macmillan Pub. Ltd, 2009): 2-3.
[23]Jolliffe, East Timor: 157.
[24]Michael Richardson, ‘FRETILIN Ready for Long War of Resistance’, the Age, 9 Dec. 1975.
[25] John Edwards, “Timor: A New Vietnam?”, the National Times, 29 Sept. — 4 Oct. 1975.
[26] Susunan kabinet itu terdiri dari Menteri Dalam Negeri (Mari Alkatiri); Menteri Perekonomian dan Sosial (Abilio Conceicao Araujo Abrantas); Menteri Koordinator Perekonomian dan Statistik (Jose Goncalves); Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Aires de Almeida Parera); Menteri keuangan (Juvenal Sanacio); Menteri Urusan Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri (Alarico Jorge Guteres Fernandes); Menteri Pengadilan Sosial (Antonio Duarte Carvarino); Menteri Tenaga Kerja merangkap Menteri Negara (Vicente Reis); Menteri Pertahanan Nasional (Hermininggildo Alves), dan Menteri Perhubungan dan Transport (Nikolau de Jorge). Menteri-menteri itu ada yang didampingi oleh seorang wakil. Wakil Menteri Urusan Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri dipegang oleh Fernando de Almeida do Carmo. Wakil Menteri Tenaga Kerja merangkap Menteri Negara (Guido Valdares); Wakil Menteri Pertahanan Nasional (Helio Sanches Pina); dan Wakil Menteri Luar Negeri merangkap urusan-urusan informan (Domingos dos Santos Araujo).
[27]Jolliffe, East Timor: 130, 219.
[28]Jolliffe, East Timor: 69.
[29]T.N. Harper, “Empire, Diaspora and the Language of Globalism”, 1850-1914, in A.G. Hopkins (ed), Globalization in World History, London: Pimlico, 2002: 141.
[30]Jolliffe, East Timor: 328.
[31]T.N. Harper, “Empire”: 147.
Bibliografi
De Araujo, Abilio. 1975. Timorese Elites. Canberra: Canberra Technical College.
Edwards, John. “Timor: A New Vietnam?’, the National Times, 29 Sept. — 4 Oct. 1975
Harper, T.N. 2002. “Empire, Diaspora, and the Languages of Globalism, 1850-1914” in A.G. Hopkins (ed), Globalization in World History, London: Pimlico: 141-166.
Iriye, Akira, and Saunier, Pierre-Yves. 2009. The Plagrave Dictionary of Transnational History. London: Macmillan Pub. Ltd.
Jolliffe, Jill. 1978. East Timor: Nationbalism & Colonialism. Queensland: University of Queensland Press.
Ramos-Horta, Jose. 1987. Funu: The Unfinished Saga of East Timor. New Jersey: The Red Sea Press, Inc.
Richardson, Michael. ‘FRETILIN Ready for Long War of Resistance’, the Age, 9 Dec. 1975.
Comissao de Acolhimento, Verdade e Reconciliacao de Timor Leste (CAVR), 2005. Chega! The Report of the Commission for Reception, Truth, and Reconciliation Timor-Leste. Diakses padahttp://www.cavr-timorleste.org/en/chegaReport.htm [diakses pada 18 Mei 2014]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar